- Home >
- IPS : KERAJAAN CIREBON
Posted by : Rio
Jumat, 28 Februari 2014
·
Asal Mula Kerajaan Cirebon•
·
Orang
dibalik mulanya Kerajaan Cirebon adalah Sunan Gunung Jati yang bernama aslis
Syarif Hidayatullah• Syarif Hidayatullah lahir pada tahun 1448• Sunan Gunung
Jati adalah putra dari Syarif Abdullah seorang dari Mesir dengan Rara Satang,
putri dari kerajaan Pajajaran• Sebagai anggota Wali Sanga Syarif Hidayatullah
memusatkan penyebaran Islam di Jawa Barat• Syarif Hidayatullah pun membangun
mesjid di Daerah Cirebon• Dan di daerah Cirebon dia bertemu Pangeran
Cakrabuwana seorang penguasa Cirebon• Pangeran Cakrabuwana keturunan Pajajaran
(Kerajaan Hindu) tetapi dia telah memeluk Agama Islam
·
Asal Mula Kerajaan Cirebon• Pangeran
Cakrabuwana berkedudukan di Istana Pakungwati di Cirebon• Dan setelah itu
pemerintahan Pakungwati diserahkan ke Syarif Hidayatullah• Saat memerintah
Pakungwati, Syarif Hidayatullah berasil mengembangkan daerah tersebut dan
mengembangkan Cirebon menjadi kerajaan, setelah itu melepaskan diri dari
kekuasaan Pajajaran. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
·
Perkembangan Kerajaan Cirebon• Dibawah
pemerintahan Syarif Hidayatullah, Kerajaan Cirebon memiliki Perkembangan yang
sungguh pesat.• Dan perkembangan dan penyebaran Islam pun semakin meluas•
Disaat Kerajaan Demak yang dibawah pimpinan Fatahillah menyerang Portugis di
Sunda Kelapa. Dan Kerajaan Cirebon pun mengirimkan bantuan.• Pada tahun 1527
Fatahillah yang memimpin Kerajaan Demak pun berhasil mengusir Portugis dari
Sunda Kelapa• Syarif Hidayatullah pun meminta Fatahillah menjadi bupati di
Sunda Kelapa / Jayakarta Untuk meneruskan pemerintahan di Cirebon, Syarif
Hidayatullah mengangkat Purtanya yg bernama Pangeran Pasarean untuk menduduki
Takhta Cirebon. Dan keturunan inilah yang menghasilkan generasi-generasi raja
baru di Cirebon selanjutnya.• Dengan Letak yang sungguh Strategis, Cirebon pun
menjadi kota dagang dan pelabuhan Ekspor dan Impor.• Hubungan dagang dengan Demak
dan Malaka juga mengalami peningkatan• Perkembangan Pelabuhan Cirebon pun
menghasilkan untung bagi daerah pedalamanDibawah pemerintahan Syarif
Hidayatullah rakyat hidup sangat sejahtera.• Tapi saat Cirebon dikuasai Mataram,
rakyat tidak sebebas dulu lagi apalagi setelah di kuasai VOC, kebebasan Rakyat
malah menghilang.
Kerajaan
Cirebon berada pada puncak kejayaan ketika dipimpin oleh Syarif Hidayatullah.
Syarif Hidayatullah putra wanita asal Galuh-Caruban yaitu Nhay Lara Santang
adik dari Pangeran Cakrabuwana pemimpin Caruban yang menikah dengan Mauana
Sultan Muhammad. Ketika Syarif Hidayat berusia duapuluh tahun, ia pergi ke
Makkah berguru kepada Syeh Tajamudin Al ubri, di sini ia tinggal selama dua
tahun, setelah tamat dari Syeh Tajamudin kemudian Syarif Hidayat, meneruskan
pelajaran kepada Syeh Ataillah Syazalli, masih di Mekkah juga selama dua tahun Ketika Cirebon mengalami kejayaan pada masa
Syarif Hidayatullah sudah tidak diragukan lagi, karena pengalaman ilmu yang
didapat sangat luar biasa. Itu dapat kita lihat dari beliau mempunyai dua guru
besar yang ada di Mekkah. Syarif hidayatullah juga pernah belajar Tasawuf di
Bagdad. Beliau di Bagdad beliau belajar tasawuf selam dua tahun. Kemudian
beliau kembali ke negerinya yaitu Oqnah Yutra. Kemudain beliau memutuskan untuk
pergi ke Jawa karena beliau ingin menjadi mubaligh di Jawa. Dalam perjalanannya
ke pulau Jawa Syarif Hidayatullah sempat singgah di Gujarat. Setelah dari
Gujarat, Srarif Hidayat singgal dan tinngal pula di Samudera Pasai, sebuah
tempat di Aceh yang pada masa itu sudah merupakan Kerajaan Islam yang cukup
besar karena sudah berdiri sejak 1296 Mungkin saja ketika di Samudra Pasai
Syarif Hidayatullah sedikit banyak belajar tentang pemerintahan Islam. Karena
beliau juga tinggal beberapa waktu di Samudera Pasai. Jadi tidak heran lagi
ketika beliau menjadi pemimpin di Cirebon dapat membawa pada kejayaan. Kemudian
Syarif Hidayatullah melanjutkan perjalannanya ke Banten, kemudian ke Ampel. Ada
bebrapa versi mengapa Syarif Hidayatullah pergi ke Ampel. Setelah dari Ampel,
kemudain beliau mejunu Cirebon untuk menyiarkan agama Islam atas perintah dari
para wali. Menurut Kitab Purwaka Caruban dalam bukunya R.H. Unang Sumardjo SH
dijelaskan bahwa: Syarif Hidayatullah mendirikan pesantren di Dukuh Sembung
masuk wilayah Pasambangan juga mengajar agama Islam di ampung Badaban Dari
keterangan diatas dapat dipastikan bahwa kehadiran Syarif Hidayatullah di
Cirebon sudah dapat diterima oleh pribumi Cirebon itu sendiri. Karena mustahil
ketikan kedatangan Syarif Hidayatullah di Cirebon kemudian mendirikan pesantren
tidak mendapatkan persetujuan pribumi Cirebon. Disisi lain komunikasi yang
digunakan oleh Syarif Hidayatullah dapat diterima oleh pribumi Cirebon. Disisi
lain Syarif Hidayatullah merupakan keponakan dari Pangeran Cakrabuwana pemimpin
Caruban. Jadi kalau hanya mendirikan pesantren di Cirebon menjadi hal yang
mudah bagi Syarif Hidayatullah. Namun demikian, kemungkina Syarif Hidayatullah
mengajukan usul agar dalam tahun-tahun pertamanya di Cirebon diberi kesempatan
untuk menjadi pendidik/guru dahulu sesuai keputusan para wali, sebagai
pengganti Syeh Datuk Kahfi). Ini dilakaukan Syarif Hidayatullah supaya dapat
mempelajari tentang masyarkat Cirebon itu sendiri. Mengapa yang dipilih
mendirikan pesantren, dikarenakan yang pertama adalh keinginan dari Syarif
Hidayatullah unuk menjadi mubaligh dipulau Jawa yang juga dipertegas dengan
titah dari para wali untuk mensyiarkan Islam di tanah Sunda. Selain itu, ketika
Syarif hidayatullah menjadi pemimpin pesatren, beliau dapat mempelajari tentang
nilai-nilai ataupun pola kehidupan masyarakat Cirebon. Diperkirakan pada suatu
waktu ada beberapa orang dari Banten yang sengaja datang ke Pasambangan menemui
Syeh Jati (yang sudah dikenal di Banten karena pernah tinggal di sini beberapa
waktu lamanya setibanya dari Samudera Pasai), dan mengajukan permohonan kepada
Syeh jati untuk memberikan pelajaran Agama Islam di Banten Kemungkinan juga
sepak terjang dari Syarif Hidayatullah sundah tersebar luas kabarnya sampai ke
Banten. Karena pada waktu Syarif Hidayatullah berada di Banten setelah dari
Samudera Pasai, beliau tinggal tidak lama. Ketika berada di Banten, Syarif
Hidayatullah diminta untuk segera kembali ke Cirebon oleh Pangeran Cakrabuwana.
Karena kehadiran dan tenaganya sangant dibutuhkan di Cirebon. Ternyata Pangeran
Cakranuwana sudah lama mempunyai rencana dan ingin cepat merealisasikan
rencananya itu untuk menobatkan Syarif Hidayatullah sebagai penguasa di nagari
Caruban menggantikan dirinya Yang menjadi pertanyaan adalah menganpa Pengeran
Cakrabuwana memilih Syarif Hidayatullah untuk menggantikan dirinya. Disini
penulis sulit menemukan sumber yang relevan mengenai masalah itu. Yang pasti
bahwa alasan mengangkat Syarif Hidayatullah menjadi pengganti Pangeran
Cakrabuwana tidak slah. Karena sudah jelah mengenai track record dari Syarif
Hidayatullah. Karena juga Syarif Hidayatullah merupaka keponakan dari Pangeran
Cakrabuwana. Penobatan Syarif Hidayatullah menjadi Tumenggung di Cirebon
merupakan era baru bagi Cirebon. Beliaulah yang mengganti nama Cirebon yang
dulunya adalah Caruban, dan diganti dengan Cerbon dan terus berkembang menjadi
Cirebon. Masa kejayaan kerajaan Cirebon di awali dari perkembangan Islam. Pada
masa Syarif hidayatullah Islam berkembang dengan pesat. Sudah tidak kaget lagi
ketika Islam mengalami perkembangan yang pesat. Memang tujuan utama Syarif
Hidayatullah ke pulau Jawa adalah menjadi mubaligh untuk menyiarkan Islam.
Disisi lain gaya komunikasi yang digunakan sehingga dapat membius pribumi
Cirebon untuk masuk Islam. Silsilah dari Syarif Hidayatullah juga yang dapat
dengan mudah menjadi keyakinan pribumi beliau, yaitu cucu dari Prabu Siliwangi.
Kejayaan kerajaan Cirebon tidak lepas dari campur tangan Pangeran Cakrabuwana.
Menurut perkiraan beberapa waktu sebelum penobatan, syarif Hidayatullah dengan
Pangeran Cakrabuwana telah membicarakan tentang berbagai konsep pembangunan
negara serta beberapa rencana operasional Sudah pasti Syarif hidayatullah
melaksanankan konsep-konsep yang telah dirancang bersama dengan Pangeran
Cakrabuwana. Berdasarkan perkiraan dengan memperhatikan temuan-temuan
dilapangan dan uraian-uraian dalam itab Purwaka Caruban Nagari yang tertulis
dalam bukunya Unang Sunadjo menyebutkan bahwa: azaz pemerintahandi wilayah Cirebon
adalah berazaz desentralisasi. Sedangkan polanya yang utama adalah pola
pemerintahan kerajaan di pesisir, di mana pelabuhan menjadi bagian yang sangat
penting dan pedalaman menjadi penunjang yang sangat vital. Dari uraian diatas
dapat di ambil inti sari bahwa hubungan antara daerah pesisir yaitu pelabuhan,
dengan daerah pedalaman (sektor pertanian dan pemasaran) saling berkaitan.
Komoditi-komoditi yang masuk dari pelabuhan dibawa ke daerah pedalaman untuk
dijual. Begitu juga ketika komoditi dari sektor pertanian akan di ekspor
melewati pelabuhan. Pada masanya, bidang politik, keagamaan, dan perdagangan,
makin maju. Pada masa itu terjadi penyebaran Islam ke Banten (sekitar
1525-1526) dengan penempatan putra Syarif Hidayatullah , yaitu Maulana
Hasanuddin, setelah meruntuhkan pemerintahan Pucuk Unum, penguasa kadipaten
dari kerajaan Sunda Pajajaran yang berkedudukan di Banten Girang. Setelah
Islam, pusat pemerintahan Maulana Hasanuddin terletak di Surowan dekat muara
Cibanten Sudah jelas bahwa Syarif Hidayatullah memperluas wilayah dengan
penyerangan daerah-daerah kecil untuk menyabarkan Islam. Ini penting untuk
dilakukan supaya Islam dapat tersebar dengan cepat. Upaya ini juga untuk
mendapatkan pengaruh yang kuat dari wilayah-wilayah lain di Jawa bagian barat.
Pada suatu ketika Syarif Hidayatullah pergi ke Demak untuk membantu membangun
masjid Demak. Syarif Hidayatullah menyumbang tiang masjid yang sekarang dikenal
dengan Saka Guru. Ketika merujuk dari sumbangsi Syarif Hidayatullah dalam
pembangunan masjid Demak, ini merupakan salah satu strategi dari Syarif
Hidayatullah dalam melakukan hubungan abatar kerajaan. Karena pada waktu itu di
Demak juga berdiri kerajaan yang besar dibawah pimpinan Raaden Patah. Hubungan
ini dilakukan supaya eksistensi dari Cirebon dapat terjaga. Ketika berada di
Demak dan juga para wali berkumpul, mungkin Syarif Hidayatullah menyempatkan
untuk membahas maslah-masalah kerajaan-kerajaan yang masih belum terdapat agama
Islam. Setibanya di Cirebon, Syarif Hidayatullah mengadakan rapat yang
menghasilkan kebijakan politik, sikap politik kerajaan Cirebon terhadap
kerajaan Pajajaran yaitu tidak bersedia lagi mengirim upeti (bulubhekti) kepada
Pajajaran yang disalurkan melalui Adipati Galuh Sikap ini secara tidak langsung
Cirebon menyatakan kemerdekaannya. Karena sudah melepaskan diri dari Pajajaran
dengan cara tidak lagi mengirim upeti. Ketika kita melihat kembali silsilah
dari Syarif Hidayatullah, penguasa Pajajran pada waktu itu adalah Prabu Siliwangi,
yaitu kakeknya sendiri. Tindakan ini awalnya mendapat respon keras dari Prabu
Siliwangi, akan tetapi kemudian Prabu Siliwangi seakan-akan membiarkan
keputusan yang diambil oleh Syarif Hidayatullah. Karena Prabu Siliwangi
menghindari perang saudara. Mungkin juga dikarenakan hubungan antara Cirebon
dengan Demak yang semakin erat. Sehingga Prabu Siliwangi tidak dapat mengambil
sikap keras. Sejak Syarif Hidayatullah bandar Cirebon makin ramai baik untuk
berhubungan laut antar Persi-Mesir dan Arab, Cina, Campa dan lainnya Keraimain
di bandar Cirebon sudah menjadi bukti nyata kebesaran Cirebon dikancah
internasional. Terbukti dengan banyaknya pedagang dari berbagai negara. Ketika
bandar Cirebon pada puncak keramaiannya, pasti ada halangan. Mungkin dari bajak
laut ataupun yang lain. Susuhunan Jati segera mengirim pasukan menumpas Bajak
Laut ini dengan menyeran pangkalannya. Pasukan Cirebon yang berkekuatan dua
ribu tjuh ratu orang dipimpin oleh Dipati Keling Tindakan ini sangat dibutuhkan
untuk menjaga keamanan bandar Cirebon. Apabila Syarif Hidayatullah tidak
mengambil tindakan tegas, maka bandar Cirebon dalam bahaya yang berakibat
bandar menjadi sepi. Pada tahun 1527 pasukan Demak di bawah pimpina Faletehan
dengan bantuan pasukan Cirebon, Dipati eling, dan Dipati Cangkuang berhasil
menaklukan Sunda Kelapa, sejak itu namanya diganti dengan Jayakarta dan
Faletehan diangkat sebagai kepala pemerintah yang pertama Ketika pemimpin suatu
daerah Islam, maka masyarakat yang berada di wilayah itu juga memeluk Islam.
Begitu juga dengan Jayakarta, Faletehan segera meng-Islamkan masyarakat
Jayakarta. Sehingga masyarakat pesisir utara Jawa sudah memeluk Islam. Dengan
masuknya bandar-bandar kerajaan Pajajaran seperti Banten tahun 1526, Kalapa,
tahun 1527 maka seluruh utara Jawa Barat telah ada dalam kekeuasaan Islam Akibat
keadaan seperti ini maka bandar-bandar termasuk Cirebon menjadi tempat
perdagangan internasinal. Sebagai mana lazimnya pada masi itu, maka setelah
dicarikan waktu yang tepat Susuhunan Jati mengeluarkan keputusan untuk
membangun sebuah mesjid yang besar sebagaimana halnya di Demak (Sunardjo,
1983:74). Dengan demikian sudah jelas bahwa Cirebon dibawah kepemimpina Syrif
Hidayatullah yang juga seorang wali berhasil mempercepat perkembangan Cirebon
sebagai syiar Islam dan juga perdagangan. Seperti yang dijelaskan oleh RH Unang
Sunardjo dalam bukunya yang menjelaskan: 1. Telah terpenuhinya prasarana dan
sarana pisik essensial pemerintahan dan ekonomi dalam ukuran suatu Kerajaan
Pesisir. 2. Telah dikuasainya daerah-daerah belakang (hinterland) yang dapat
diharapkan mensuplay bahan pangan termasuk daerah penghasil garam, daerah yang
cukup vital bagi income nagari pesisir dengan luas yang memadai. 3. Telah
adanya sejumlah pasukan lasykar dengan semangat yang tinggi, yang dipimpin oleh
para panglima (dipati-dipati) yang cukup berwibawa dan bisa dipercaya
loyalitasnya. 4. Adanya sejumlah penasehat-penasehat baik dibidang pemerintahan
maupun agama. 5. Terjalinnya hubungan antar negara yang sangat erat antar
Cirebon dengan Demak. 6. Mendapat dukungan penuh dari para wali. 7. Tidak
terdapat indikasi tentang ancaman Prabu Siliwangi untuk menghancurkan
eksistensi cirebon. Dari uraian diatas dapat dijadikan acuan bahwa Cirebon pada
masa Syarif Hidayatullah berada dalam kejayaannya. Sunan Gunung Jati wafat pada
tahun 1568 dan dimakamkan di Bukit Sembung yang juga dikenal dengan makam
Gunung Jati). Kemudian digantikan oleh Panembahan Ratu putra Pangeran Suwarga.
RAJA-RAJA YANG MEMERINTAH
KERAJAAN CIREBON
-PANGERAN CAKRABUANA PADA TAHUN :
1445-1479
-SUNAN GUNUNG JATI PADA TAHUN:1479-1568
-FATAHILLAH PADA TAHUN :
1568-1570
-PANEMBAHAN RATU 1 PADA TAHUN :
1570-1649
-PANEMBAHAN RATU 2 PADA TAHUN :
1649-1677
PENINGGALAN SEJARAH DI KERAJAAN
CIREBON
-KESULTANAN KESEPUHAN
-MESJID AGUNG SANG CIPTA RASA
-KERATON KANOMAN
-MAKAM SUNAN GUNUNG JATI
-TAMAN AIR GUA SUNYARAGI
·
Runtuhnya Kerajaan Cirebon•
·
Tahun 1679 Cirebon terpaksa dibagi menjadi 2
kerajaan, yaitu Kasepuhan dan Kanoman dengan suatu alasan• Saat kedudukan VOC
di Batavia semakin kuat, kedudukan Cirebon pun juga sangat terancam runtuh•
Dengan politiknya VOC atau Devide Et Impera Kesultanan Kanoman juga terpaksa
dibagi dua yakni Kesultanan Kanoman dan Kacirebonan• Setelah itu Cirebon
menjadi terbagi 3 yaitu Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan• Pada Akhir abad 17
Cirebon runtuh karena dikuasai oleh VOC Setelah Indonesia merdeka, kerajaan
Cirebon tidak benar-benar hilang, tapi menjadi bagian dari Indonesia yakni
menjadi Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon• Setelah Indonesia Merdeka, Cirebon
tidak lagi melaksanakan Kesultanan/Kerajaannya. Walau banyak Keraton / Masjid
yg didirikan oleh Kerajaan Cirebon. Tapi Keraton / Masjid nya tersebut tetap
digunakan untuk ke-aktifitas keagamaan dan upacara adat. Keraton Kasepuhan
Navigation